
| Category: | Movies |
| Genre: | Action & Adventure |
KALA
Di Tengah Gulita, Lahirlah Sang Penyelamat
Ramalan Jayabaya soal pengharapan akan Ratu Adil di tengah sebuah
zaman edan. Harta karun terpendam peninggalan presiden pertama.
Juga, masih belum lupa `kan isu harta karun di bawah Prasasti
Batutulis, Bogor, yang melibatkan seorang menteri itu? "Sejarah
mistis", meminjam istilah seorang tokoh di film ini, dan isu-isu
berbau klenik memang wacana khas negeri ini. Bukan cuma menjalar
dari mulut ke mulut, namun menyeruak sampai menjadi bahan
pemberitaan media massa.
Dan, tuturan mistis itu kini menjadi landasan kisah film
thriller fantasy bergaya noir yang dibesut dengan gesit oleh Joko
Anwar. Paduan kisah detektif, kisah hantu dalam balutan magic
realism, kisah cinta yang singkat namun menyengat, dan kisah
pencarian harta karun, Kala mengangkat bahan-bahan klenik tadi
menjadi sebuah dongeng berkelas tentang kelahiran seorang superhero.
Di sebuah negeri antah-berantah yang dibayangi chaos,
seorang polisi bernama Eros (Ario Bayu) menyelidiki kematian lima
laki-laki yang dibakar oleh massa. Janus (Fachri Albar), wartawan
pengidap narkolepsi yang tengah dalam proses perceraian dengan
istrinya (Shanty), meliput insiden tersebut untuk korannya.
Dalam upaya mewawancarai salah satu istri korban, tape
recorder Janus berhasil merekam perkataan perempuan itu tentang
sebuah tempat misterius. Perempuan itu sendiri tak lama kemudian
mati mengenaskan tertabrak bis. Ketika akhirnya Janus bertemu dengan
adik si perempuan, penyanyi kelab malam bernama Ranti (Fahrani),
Janus diberitahu, perkataan dalam rekaman itu mengandung kutukan.
Hanya satu orang yang boleh mengetahuinya. Kalau sampai ada orang
kedua yang mengetahuinya, salah satu dari mereka harus mati. Korban
telah jatuh, dan korban-korban lain siap menyusul.
Perkataan rahasia tersebut ternyata bertautan dengan, ya itu
tadi: ramalan Jayabaya, harta karun yang disembunyikan oleh presiden
pertama negeri itu, dan pengharapan akan munculnya seorang
penyelamat bagi bangsa yang dilanda kekerasan, ketidakadilan dan
keserakahan. Melalui penyelidikan, Eros akhirnya berhasil
menguaknya. Namun, itu juga berarti, bagi dirinya dan Janus, salah
satu dari mereka harus mati. Sebelum malaikat maut menjemput, mereka
hanya bisa menunggu pertolongan dari sang penyelamat, Ratu Adil yang
dinanti-nantikan.
Bagaimanapun, Joko telah membuat pilihan yang cerdik. Ia
jadi leluasa membaurkan berbagai langgam. Di satu sisi terasa sangat
Indonesia, di sisi lain Hollywood banget. Simak adegan di
perpustakaan itu. Sejak kapan detektif Indonesia (hehe, memangnya
ada film detektif Indonesia?) menelusuri perpustakaan untuk
mendukung penyelidikan kasusnya? Kayak Morgan Freeman dan Brad Pitt
di Se7en saja. Tapi, coba dengar omongan si penjaga perpustakaan
yang diperankan Rima Melati. Ia membiarkan pintu belakang terbuka
dengan alasan, "Siapa yang akan merampok perpustakaan? Penduduk kota
ini tidak ada yang peduli dengan perpustakaan. " Indonesia sekali!
Sosok makhluk gaibnya, meski namanya ganjil, juga khas
Indonesia (baca: Jawa). Ia hanya meruhi (menampak-nampaki) dan tidak
membunuh manusia, dan karenanya malah menebarkan teror yang lebih
mencekam. Di sisi lain, ia menjadi pamomong bagi mereka yang patut
dilindungi.
Akan tetapi, ending-nya perlu diberi catatan tersendiri.
Meskipun secara logika cerita sudah solid, namun dalam eksekusinya
terasa mengambang.
Joko Anwar, setelah komedi romantis segar Janji Joni,
menuturkan film keduanya ini secara cergas. Keping demi keping teka-
teki tersusun rancak, ketegangan demi ketegangan susul-menyusul,
secara pelan tapi pasti menyingkapkan misteri. Yang jelas, berbeda
dengan kebanyakan film Indonesia yang kelimpungan dalam urusan
logika, Joko justru amat piawai dan ketat menata untaian sebab-
akibat. Dan penonton dibuat cingak, tercingangah di ujung kisah.
Tata artistik dan sinematografinya, dengan penerangan yang
minimal tapi optimal, secara menawan menampilkan sebuah kota yang
gulita, pedih, dan menyimpan ancaman di sudut-sudutnya. Tampilannya
mengingatkan pada kota-kota lama Indonesia pada masa kolonial saat
penerangan masih menggunakan lampu gas. Kota antah-berantah itu juga
belum mengenal telepon selular, namun toko eletroniknya memajang
tumpukan televisi menyala di etalase, memungkinkan tokoh kita
memantau sejumlah berita penting.
Paduan akting para pemerannya juga memuaskan. Kekuatan
mereka terasa merata, termasuk pada pendatang baru Ario Bayu dan
Fahrani. Aksi Arswendi Nasution sebagai Haryo Wibowo boleh dikenang
sebagai salah satu bad guy mengesankan dalam film Indonesia.
Kalau ada yang mau dipersoalkan, barangkali adalah
ketidaktuntasan Joko memfantasikan kisahnya. Dia sudah memilih latar
antah-berantah, namun masih mencatut acuan dari ramalan Jayabaya.
Penamaan tokohnya campur aduk. Eros dan Janus mencomot dari mitologi
Yunani, namun terasa hanya diambil namanya saja, tidak sekalian
karakteristiknya. Sedangkan Sari, Ranti, Soebandi, Haryo Wibowo,
Bambang Sutrisno, Ronggoweni, terdengar sangat n-Jawani. Lalu,
Pindoro? Setelah mengaduk-aduk internet, jebul itu nama orang Gypsy
dalam dialek Hungaria. Walah! Pertanyaannya, ini sebuah pilihan
artistik yang disengaja, atau akibat kecemasan terhadap lembaga
sensor mengingat terdapat muatan yang lumayan sensitif dalam film
ini?
