sebuah percikan hangat
dari à courts d'écran #6 - boemboe forum
hari sabtu tanggal 18 agustus siang hari aku menghadiri pemutaran film di ccf jakarta, di salemba. Dan benar benar aku mendapat percikan hangat dari acara itu.
acara di buka dengan diputarnya film Aku dengan Nina
karya Dinda M Djunanda. Suatu film yang menarik emang dari segi penyajian, namun ketika ternyata menurutku bahwa realitas yang sutradara pinjam untuk dibawa ke fantasi ternyata dia belenggu begitu saja tanpa adanya rasa tanggung jawab dan mengatas namakan post-modern sebagai manifesto utama film itu disamping film picisan bandung lautan asmara. Ketika aku lontarkan pertanyaan tersebut tentang kenyataan yang sengaja dia pinjam, ternyata hanya sebuah anekdot yag aku dapat dan sangat menggelikan ketika post-modern menjadi icon gaya-gayaan anak muda sekarang untuk menunjukkan karya nya. yah mungkin aku juga termasuk orang yang gaya-gayaan untuk merefleksikan diriku dengan karyaku :). Sungguh sangat sakitnya hatiku bahwa sang sutradara juga merupakan mahasiswa film, aku sebagai orang yang pernah menyandang mahasiswa film sangat tersentuh ketika seorang mahasiswa film dengan ringannya menyepelekan sebuah ideologi film dan dengan gampangnya meminjam kenyataan di dalam fantasinya, mungkin juga seniman yang berjalan di jalur post-modern sangat sakit ketika mereka mendengar itu.. :) untung mereka tidak ada di ruangan itu.. menurutku sih..
setelah itu session istirahatm dan dilanjutkan dengan beberapa film perancis... :) aku meperhatikan film terakhir di session itu yang di putar yaitu Stricteternum
karya Didier Fontan, sungguh cara bercerita dan penyampaian ideologi visual yang cerdas untuk film pendek.. namun yah memang mereka paham tentang kenyataan dan fantasi, dan di film itu Fontan sangat bertanggung jawab dengan mengembalikan kenyataan yang dia pinjam ke dalam kehidupan nyata, walaupun dengan decopase yang mozaik, benar benar cerdas menunjukkan kestagnanan hidup sampai sampai mainan yang dia bawa pun mengalami itu.. sangat bersyukur aku ketika melihat film ini kembali,.. bahwa menurutku emang gaya bercerita lah yang bisa menjembatani itu antara fantasi dan kenyataan dan harapanku sih mereka yang hadir di acara itu memperhatikan dengan jelas :)
menariknya setelah itu, ada diskusi tentang bagaimana membangun naratif dalam sebuah film. Dimoderatori oleh Dimas Jayasrana dan Lulu Ratna. Dipancing dengan pertanyaan sederhana oleh satu pengunjung, yaitu mengapa gaya bercerita orang barat dan kita berbeda.. dalam hatiku aku langsung tertawa, namun terjadi perdebatan seru disini,... ketika akhirnya eksistensi IKJ sebagai satu-satunya sekolah film di Indonesia mulai dipertanyakan dan Veonica salah satu produk IKJ menjelaskan tentang keterbatasan IKJ dan medium film dan Video yang sedikit memacu gaya penyajian sehingga orang lebih adem matanya ketika melihat sebuah film daripada video di sebuah tempat screening, dan tiba tiba saja terdapat sanggahan dari Andi Bachtiar Yusuf, seorang sutradara muda yang lagi ngetren.. :) bahwa segmenlah yang embedakan bagaimana gaya bercerita itu disusun. Memang sedikit masuk logikaku ketika Ucup, sapaannya mengatakan doktrin tak tertulis yang dibangun oleh orang tua kita memang sangat berhasil untuk membuat anak anaknya menjadi fatalis, dan malas mencoba dan ketika siUcup mencontohkan dengan masalah teknis antara video dan film sungguh benar2 menggelikan hatiku, karena aku pernah mengalami permasalahan yang sama 2 -3 tahun lalu .. terus sampai akhirnya acara perdebatan tersebut dipotong oleh istirahat session.
Dari perdebatan tersebut sangat jelas bahwa sebenarnya banyak yang tidak paham dengan eksistensi video di dalam sinema akhir2 ini. Boemboe forum mengadakan pemutaran itu sudah tentu sangat bijak sekali dan sangat menjadi mediator bagi seniman2 vido di negeri ini, namun sungguh menggelikan ketika ternyata para pelaku video sendiri merasa titik pencapaian yang dicari cari hanyalah untuk mengejar sebuah medium film.. bagiku, itu sebuah hal yang hanya saja menguras energi.. yah kalau untuk mengejar sebuah medium film, yasudah mending kita memakai film namu ketika pemakaian video disejajarkan dengan film ya tentu sangat mustahil.. karena Film dan Video mempunyai karakter sendiri.. aku jadi ingat ketika George Lucas memutuskan memakai Panasonic vericam untuk starsWars nya, keluarlah jargon Panasonic di iklan majalah yang aku baca.. ' celluloide is death' ..wow memang dahsyat iklan itu dan tak dibendung lagi teknologi video benar2 berkembang sampai detik ini. dan hal ini juga bersangkutan dengan pertanyaan kenapa gaya bercerita kita beda dengan mereka orang2 barat.. yah tentu ! kultur dan perkembangan budaya kita sangat beda.. sungguh sangat naif ketika seorang teman berusaha mencapai gambar seindah 35mm namun dia shoot memakai canonXL1 dan sungguh membuang energi ketika kita harus mengejar ga ya bercerita mereka orang barat.. karena Kita juga mempunyai ciri dan kekuatan sendiri..dan canonXL1 juga mempunyai karakter gambar sendiri yang ga akan mungkin bisa dilakukan di 35mm .. hal itu yang menurutku menjadi salah kaprah dalam kacamata kita.. mengapa EricKhoo memakai 24p di film nya BeWithMe.. bukannya ericKhoo ga mampu mencari produser yang bisa mendanai pemakaian 35mm namun ericKhoo jelas ingin memberikan nuansa interior dan gambar gambar interior yang kuat dengan yang hanya dibutuhkan video untuk menyampaikannya, .. dan jelas, mengapa DA Peransi menolak tergabung dalam pembuatan MaxHavelar.. karena gaya bercerita Belanda justru bisa membunuh kedaulatan bangsa kita ! yah karena itu juga akhirnya perkembangan film di negara dunia ke3 menjadikan topik yang seksi di negara barat - aku kutip dari pernyataan Dimas Jayasrana- memang..! karena negara dunia ke3 yang hampir semuanya berlatar belakang negara terjajah malah berkembang pesat dalam menacari kelemahan mereka... eeh.. kok bangsa kita akhir2 ini malah banyak membikin film yang berusaha mengejar dunia barat.. yah.. bagaimana kita bisa maju kalau selalu ikut-ikutan...
After break, diputar film gabungan live shoot dengan animasi Yaa.. begitulah Kehidupan
karya Kurnia Harta Winata. yang bercerita tentang komikus yang memprotes tokoh ciptaannya karena tokoh tersebut tidak digemari pembacanya. :) film ini sungguh menarik dan aku suka cara penyampaian yang simple dan lugu.. benar benar film yang menghibur.. dia benar benar paham bahwa filmnya akan menciptakan ruang sendiri untuk fantasinya.
dilanjutkan film Celilian karya Heru C Purbowo.. sungguh hanya membuat garis merah di acara itu.. yah mungkin kalau sebuah image produktif yang dikejar bisa jadi sebuah bumerang untuk film makernya sendiri .. namun rasa dan semangtnya sangat bagus :)

lalu session dokumenter dimulai dengan dibuka oleh film Gethek Pintar karya Muslikah. Film yang menceritakan bagaimana perjuangan seorang pengayuh gethek untuk hidup dan berhasil sampai menyekolahkan anak2nya sampai universitas.. lulus pula.. :)

dilanjutkan film Ijinkan Aku Bernyanyi karya Ananto Wibowo yang menyajikan aktifitas penjaga lawang sewu. dari awal sampai akhir film memang dia selalu
berbicara dan tidak jarang dia menyanyi langgam jawa.. :) ketika film ini diputar, sebelahku duduklah bule cantik bernama Elise yang ternyata tim manajerial di CCF, aku berkenalan dan aku tanya tentang apresiasiya berkaitan filmnya ananto.. dia benar benar tidak mengerti apa maksud film itu walaupun dia membaca subtitle film itu namun dia benar benar tidak paham mengapa film itu dibuat.. :) gw juga Elise.. hehe
dilanjutkan film Kematian diJakarta karya Ucu Agustin film yang didevelop oleh Salto dan Jiffest ini memang sedikit menarik perhatianku.. disamping mereka filmmakernya
didanai 25juta untuk pembuatannya juga ternyata konsep dokumenter lebih masuk ke dalam konsep bercerita bagi aku.. film ini bercerita tentang adanya strata dalam kematian dan juga hebatnya pengaruh strata ekonomi di pengurusan kematian itu sendiri di Jakarta, terebih lagi jenazah para orang yang tidak mempunyai keluarga. waktu session diskusi film ni, Ucu dan Vero menjelaskan bahwa ini sangat diluar konsep mereka karena mereka ternyata harus melewati pintu pitu kompromi yang sangat luar biasa dari funder mereka.. :) wow sungguh menarik..namun yah aku paham karena aku juga pernah di posisi sangat kompromi ketika aku harus meyakinkan funderku untuk mendanai film tugasku dan itupun aku harus sangat kompromi karena begitu kerasnya kemauan dalam hatiku untuk menggunakan medium 35mm :) dan ada hal lain lagi yang menjadikan aku kaget ketika nama Elise Mignot, orang di sebelahku tercatum di credit title film ini.. spontan aku tanya, ternyata dia menjadi advisor untuk penggunaan musik perancis dengan nuansa violin yang kental disitu.. hmm .. yah itu pengakuan Elis waktu itu.
Aku hadir di acara itu bersama temanku yang juga kebetulan dia penulis juga dari Surabaya, Sungkono dengan latar belakangnya di sekolah jurnalis, dia hanya berkomentar.. mereka semua masih perlu sekolah lagi tentang etika dokumenter.. :)aku hanya tersenyum dan seketika itu juga aku ingat akan film Vagabond karya Agnes Varda.. 90% orang melihat film itu akan mengtakan bahwa itu film dokumenter.. namun akan sangat terpukul mereka ketika Varda sendiri mengatakan.. aku selalu membuat film fiksi dan bagi aku film Dokumenter itu tidaklah ada.. wow .. perkataan cerdas dari seorang yang selama ini selalu dikaitkan dengan film dokumenter.. ya ya .. perkataan Varda sendiri sebenarnya beralasan ketika varda menjelaskan pernyataannya dalam essay singkatnya bahwa plihan peletakan kamera adalah subjektif, dan ketika unsur subjektif sudah masuk dalam ideologi shoot maka terjadilah pengadeganan.. secara ideologis,.. pengadeganan sangat dilarang dalam alur film dokumenter.. dan ketika ketiga film dokumenter yang diputar tadi aku sangat melihat banyaknya pengadeganan dalam film mereka..
perkataan Varda sendiri memang sangat menjadi polemik, ketika aku kuliahpun aku sangat terpukul dengan pernyataan Varda.. bahkan aku sangat tidak setuju dengan dia, namun ketika aku telaah kembali pelan pelan.. memang, pemilihan peletakan kamera adalah hal subjktif dan itu akan menjadikan kita membangun interpretasi saat itu juga.. dan kita telah mengatur daya tangkap kamera, secara otomatis kita telah melakukan pengadeganan dengan kamera itu.. hmm memang sampai sekarang perkataan Varda tetap seperti itu, namun aku secara harviah tdak setuju jika film dokumenter itu dianggap tidak ada, karena pengadeganan yang dimaksud adalah pengadganan dalam objek.. dan memang perkataan Agnes Varda itu dia lontarkan untuk para kurator yang mnilai bahwa Agnes menyajikan dokumnter dalam Vagabond .. :)
sungguh percikan hangat di forum itu yang aku rasakan dan sampai sekarang aku sangat geli ketika ternyata anekdot Godard tentang past and present juga terjadi di forum itu.. antara film dan video, antara negara barat dan negara dunia ke3 dan antara fiksi dan dokumenter dari segi ideologi.. :) yah namun aku sangat sedih waktu itu.. waktu pulang aku ga kebagian bus ke jurusan Blok M.. yah dengan terpaksa aku mengabil keputusan tidur di TIM sampai pagi karena kalau pagi jurusan blokM pasti sudah ada.. hmmm mau naik taxi.. beli rokok aja mikir apalagi naik taxi hehe.. untung temanku Sungkono masih setia menemaniku dan kita tidur di TIM .. sampai pagi :)